Dosen Jadi Selebriti Saat Korona dan Kelas Internasional Juga Ikut Tertunda

Mei 09, 2020

Oleh: Efa Devia Permatasari
(Mahasiswi Sastra Inggris FISIP UBB)

Image Source: Qureta.com
   

Covid-19 membuat hampir seluruh universitas maupun sekolah di lockdown. Mahasiswa harus belajar di rumah menggunakan media daring sedangkan dosen harus memberikan pembelajaran atau mengajar dari rumah agar proses belajar mengajar tetap berlangsung. Sistem ini memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing terutama bagi mahasiswa. Beberapa kelebihannya seperti, mahasiswa bisa berkumpul dengan keluarga di rumah, terhindar dari kerumunan di kampus atau sekolah, dapat menggerjakan tugas dengan kondisi bebas, dapat belajar sendiri dengan banyak membaca dan lainnya. Sedangkan kekurangannya adalah seperti, minimnya kuota internet, sinyal di perkampungan, tugas yang tidak ada akhlaknya, dan banyak lagi keresahan lainnya. Namun beberapa waktu yang lalu, universitas yang sebelumnya belum mensubsidikan kuota kepada para mahasiswa dan dosen telah memberikan subsidi kuota untuk mendukung pembelajaran daring.

Dalam hal ini, yang menjadi tokoh utama dalam dunia kelas daring adalah seorang dosen dan mahasiswa. Seperti yang di unggah di akun Instagram yang bernama curhatanmahasiswa.id, banyak sekali mahasiswa-mahasiswa yang menyampaikan keluhan mereka terhadap dosen-dosen. Semakin di perpanjang lockdown, para mahasiswa merasa semakin tidak mendapatkan ilmu seperti pada kelas tatap muka sebelumnya. Banyak sifat-sifat atau cara dosen mengajar daring yang menurut para mahasiswa malah menyiksa atau memberikan beban kepada mereka.

Ada beberapa isu tentang dosen yang di curhatkan oleh para mahasiswa seperti; tugas yang yang ada setiap minggunya hampir dari semua mata kuliah, 10 mata kuliah setiap minggu maka ada 10 tugas yang harus diselesaikan. Tugas kuliah sebenarnya berbeda-beda setiap jurusan, mata kuliah, dan siapa dosennya. Tidak semua dosen yang memberikan tugas berlimpah. Namun ada jurusan yang memiliki mata kuliah dengan memberikan tugas membuat analisis berhalaman-halaman. Mahasiswa mau menerima tugas-tugas analisis atau laporan asalkan diberikan kerenggangan waktu dari pada satu minggu. Adanya beban tugas dikarenakan mahasiswa yang terlalu santai untuk mulai menggerjakannya dengan salah satu alasannya yaitu bertambahnya tugas sebelum tugas sebelumnya diselesaikan, menumpuknya tugas sudah membuat pusing terlebih dahulu.

Kuota internet juga merupakan salah satu kendala kuliah daring, terutama sinyal yang kurang mendukung. Kegiatan kelas daring biasanya dilakukan di beberapa aplikasi seperti Google Classroom, Edmodo, Zoom, Instagram dan masih banyak lagi. Notifikasi yang tidak muncul membuat mahasiswa yang tidak rajin mengecek aplikasi kuliah daring membuat mahasiswa tertinggal informasi, seperti diberikannya  waktu 10 menit untuk absen bagi mahasiswa yang ditetapkan oleh beberapa dosen terpaksa harus tidak mengisi daftar hadir. Untuk melakukan persentasi dilakukan dengan cara menggirimkan berkas power point  ke Google Classroom atau Edmodo untuk dibaca terlebih dahulu oleh teman kelas lainnya untuk bertanya, setelah itu dosen menjelaskan melalui aplikasi contohnya saja melalui aplikasi Instagram khusus untuk kelas daring atau langsung dilakukan di media Zoom. Untuk masalah kuota, ada dosen yang dapat memahaminya dan ada dosen yang tidak mau tahu urusan kuota.

Kondisi kuliah daring seperti membuka perbedaan antara dosen-dosen yang pengertian dan yang semangat dalam memberikan tugas-tugas secara daring. Sedangkan para mahasiswa khawatir dengan nilai yang akan merosot dikarenakan kuliah daring ini. Selama perkuliahan sistem daring ini, dosen akan terus menjadi inti permasalahan bagi mahasiswa. Salah satu hl yang membuat mahasiswa khawatir adalah tidak masuknya tugas yang dikumpulkan, terutama melalui email yang tidak dibalas oleh dosen. Ujian akhir semester sudah didepan mata, drama kuliah daring antara dosen dan mahasiswa akan mencapai puncaknya. Bentuk ujian yang mungkin saja akan semakin membuat mahasiswa kewalahan, juga akan menjadi akhir berdatangannya tugas-tugas.

Bagaimana dengan program-program kampus yang sedang berjalan dan terpaksa harus ditunda terlebih dahulu? Contohnya adalah sebuah program di Universitas Bangka Belitung dengan One Asia Foundation yang bernama ICoAC ( International Class on ASIAN Community) adalah sebuah program FISIP UBB yang bekerjasama dengan One Asia Foundation sebagai jembatan untuk memberikan pemahaman terhadap sesama Asia tentang budaya, suku, ras, etnik, turism, dan segala perbedaan yang ada. Minggu pertama kelas internasional ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 7 Februari 2020 di gedung Rektorat. Pembicara pembuka pada minggu pertama dengan tema “From Global Local Wisdom to Global Wisdom” adalah Prof. Dr. Purwo Santoso dari Universitas Gajah Mada dan Andri Fernanda, M.A sebagai moderator.

Kelas ini memiliki 14 kali pertemuan tatap muka dengan jadwal yang sudah di tentukan, namun hal itu tidak terjadi sesuai jadwal dikarenakan adanya wabah Covid 19 yang membuat segala bentuk kegiatan-kegiatan yang harus dihadiri banyak orang harus ditunda. Pada 2 minggu terakhir sebelum adanya lockdown ada pemateri dari luar, nasional ataupun international yang tidak dapat hadir dikarenakan kondisi tersebut. Setelah adanya pemberitahuan lockdown dari universitas, secara otomatis kelas IcoAC ikut tertunda hingga waktu yang belum di tentukan dengan menyesuaikan kondisi Covid 19. Peserta ICoAC adalah para mahasiswa aktif yang hampir seluruhnya kembali ke kampung masing-masing. Sebelumnya, kelas ini sering dilaksanakan pada hari Jum’at namun juga bisa tentatif atau menyesuaikan dengan pemateri.

Pada tanggal 31 Maret 2020 admin grup Whatsapp mengirimkan file pemberitahuan bahwa peserta ICoAC harus membuat jurnal ilmiah secara berkelompok dengan ketentuan tema berdasarkan materi-materi yang telah diberikan oleh pemateri pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Muncul pertanyaan bagi beberapa mahasiswa seperti, bagaimana cara  mereka bertemu untuk membuat jurnal? Mahasiswa yang berada di kampung masing-masing dengan mahasiswa lainnya terletak berjauhan. Lebih mengguntungkan jika ada yang berada dalam satu kampung, kesulitan terletak pada anggota kelompok yang misalnya ada tiga orang dalam satu kelompok, orang pertama tinggal di Bangka Tengah, orang Kedua Tinggal di Sungailiat, dan orang Ketiga tinggal di Bangka Barat. Hal itu membuat proses pembuatan jurnal ilmiah ini sangat menguji kekereativitas mahasiswa tersebut.

Diskusi dalam pembuatan jurnal ilmiah dapat dilakukan melalui berbagai sosial media seperti Whatsapp, Instagram untuk membuat panggilan video, namun tidak se-efektif jika berdiskusi secara tatap muka. Kendala diskusi secara online juga terdapat pada kuota mahasiswa yang sekarat, untuk mata kuliah kelas online pun mahasiswa resah terhadap kuota internet yang begitu cepat habis dari pada hari sebelum kelas online. Lalu bagaimana caranya agar jurnal ilmiah dapat di buat? Jawabannya tergantung pada ide kreatif pda masing-masing kelompok. Perlu di ingat oleh peserta bahwa jurnal ilmiah ini sangat penting untuk dikerjakan karena jurnal yang terpilih dalam tahap seleksi akan diikutsertakan  dan publikasikan dalam konferensi nasional dan international.

            Bagi mahasiswa yang tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengikuti konferensi, gunakanlah cara yang efektif untuk membuat jurnal yang akan membawa kalian ke ranah nasional maupun internasional. Selamat berjuang hingga titik akhir untuk menyelesaikan perdebatan dengan dosen yang tidak mau berkompromi dengan mahasiswa, namun masih banyak dosen yang memahami mahasiswanya. Dengan mengerjakan tugas yang diberikan, beban tugas akan berkurang dari pada mengeluh dengan tugas yang ditumpuk.



---------------------------------------
BIODATA PENULIS




Efa Devia Permatasari, seorang mahasiswi Sastra Inggris Universitas Bangka Belitung yang gemar membaca komik dan cerita gambar. Selain itu menjadi seorang mahasiswi, Ia juga merupakan Asisten Laboratorium Sastra Inggris. Kini, Ia sekarang bermukim di Desa Balun Ijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

You Might Also Like

0 komentar